WASHINGTON, (ANTARA) – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah mengeluarkan perintah evakuasi wajib bagi seluruh diplomatnya yang bertugas di Arab Saudi. Langkah drastis ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya risiko keamanan di kawasan Timur Tengah yang semakin memanas.
Menurut laporan New York Times yang mengutip sejumlah sumber, perintah tersebut dikeluarkan pada Sabtu, 7 Maret 2026. Ini merupakan kali pertama Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan perintah "wajib meninggalkan" atau mandatory departure sejak serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Status Evakuasi Tertinggi Diberlakukan
Status mandatory departure merupakan level evakuasi tertinggi yang dapat dikeluarkan oleh pemerintah AS, menandakan adanya ancaman serius dan mendesak. Perintah ini tidak hanya berlaku bagi staf pemerintah AS di ibu kota Riyadh, tetapi juga di Jeddah dan Dhahran, dua kota besar di mana konsulat AS berada.
Keputusan ini menggarisbawahi kekhawatiran Washington terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di wilayah tersebut. Peningkatan ketegangan telah menjadi sorotan sejak beberapa minggu lalu, terutama setelah pengerahan pasukan AS ke wilayah tersebut dan ancaman perang terbuka terhadap Iran.
Kronologi Peningkatan Ketegangan Regional
Pada 28 Februari lalu, pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan ini dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan dan menelan korban jiwa warga sipil.
Sebagai balasan, Iran segera melancarkan serangan balik terhadap Israel serta fasilitas militer AS yang berlokasi di berbagai titik di Timur Tengah. Insiden saling serang ini telah memicu kekhawatiran global akan potensi konflik berskala besar yang dapat destabilisasi seluruh kawasan.
Kritik dan Upaya Deeskalasi Berlanjut
Sebelumnya, pemerintahan AS sempat menghadapi kritik dari para diplomatnya sendiri karena dianggap menunda persiapan evakuasi warga Amerika dari Timur Tengah. Kritik tersebut muncul di tengah pengerahan pasukan dan retorika perang yang semakin intens.
Di tengah situasi genting ini, upaya deeskalasi terus dilakukan. Menteri Luar Negeri AS dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi diketahui telah membahas situasi Iran dan serangan terhadap kedutaan dalam beberapa pertemuan. Selain itu, pihak seperti Sugiono juga dilaporkan menghubungi menlu Arab Saudi untuk membahas upaya meredakan ketegangan di kawasan.
Perintah evakuasi ini menjadi indikator jelas bahwa Amerika Serikat melihat situasi di Timur Tengah berada pada titik kritis, memerlukan tindakan pencegahan ekstrem untuk melindungi personelnya.